Diambil dari sebuah forum, ditulis oleh 1g1g
Ada saatnya hubungan yang kamu miliki dengan sang kekasih hati memasuki tahap kebosanan. Proses ‘ketemuan’ atau ‘jalan bareng’ tidak lebih dari sebuah kewajiban atau pekerjaan rutin. Waktu berdandan untuk ‘jalan keluar’ tidak lagi selama ketika baru bertemu dia dulu. Tidak ada lagi rasa cemas akan pakaian yang kurang ‘hip’ ketika diajak jalan untuk ketemuan dengan teman-teman si dia. Kamu tidak lagi mengharapkan ketemu dengan dia seperti kamu dulu mengharapkannya. Kata-kata mesra pun mulai jarang diucapkan. Ini bisa jadi adalah tanda-tanda kebosanan.
Di saat seperti ini, ada tokoh baru yang muncul dalam hidupmu. Kamu pikir dia berbeda dengan pasangan anda sekarang. Sialnya, meskipun dia sudah tahu bahwa kamu sudah punya pacar, dia tetap dengan semangat menelepon atau meladeni teleponmu, menaruh komen di fs dan fb, sms, ngajak jalan atau mau diajak jalan, curhat, dll. Kamu kemudian merasakan sensasi yang sama ketika dulu kamu jatuh cinta kepada pasanganmu sekarang. Kemudian kamu mulai menikmati sensasi tersebut. Tidak ingin melepaskan pasanganmu sekarang, dan tetap menyukai sensasi kedekatan dengan orang baru ini. Sadar atau tidak, kamu mendua.
Sebuah acara di Discovery Channel menunjukkan bahwa monogami bukanlah sifat alami dari manusia. Manusia pada dasarnya adalah mahkluk poligami. Artinya manusia akan selalu memiliki kecenderungan untuk memiliki lebih dari satu pasangan. Yang mencegah manusia untuk memiliki lebih dari satu pasangan adalah emosi yang dimilikinya ketika dia melihat pasangannya bersama orang lain. Manusia memiliki keterikatan emosional dengan pasangannya sehingga dia tidak tahan melihat pasangannya membagi cintanya dengan yang lain. Jadi hal yang membuat manusia tetap setia adalah untuk kepuasan batinnya sendiri dan komitmen bersama untuk tidak berbagi pasangan dengan orang lain.
Ada bermacam alasan untuk mengingkari komitmen tersebut, mulai dari ketidakcocokan sampai cinta yang memudar. Namun yang menjadi masalah adalah ketika kita mengingkari komitmen tetapi tidak mengakhirinya. Komitmen kita menjadi bercabang dan akhirnya tidak satupun yang kita penuhi. Menerapkan penelitian Discovery Channel di atas, seseorang yang mengingkari komitmennya sebenarnya sedang membuka resiko bagi dirinya sendiri untuk disakiti. Karena ketika dia melanggar komitmennya, maka dia tidak bisa berharap pihak yang lain untuk menepatinya. Intinya, mendua berarti menyakiti diri sendiri. Namun, logika tidak selamanya bisa diterapkan dalam cinta, orang tetap melakukannya. Saya akan coba melihat mengapa seseorang bisa tergoda untuk mendua hati.
Ketika hubungan menjadi stabil, kejutan jarang dijumpai lagi. Tanpa kejutan sebuah hubungan menjadi stagnan tanpa jantung berdebar seperti pertama kali kita berjumpa dengannya. Tidak ada lagi rasa penasaran akan reaksinya atas tindakan kita. Ketika kita bertemu dengan orang baru, jantung kita mulai berdebar lagi, berdebar senang sekaligus takut ketahuan. Sering kita juga terjebak pada sensasi pengejaran itu sendiri dan bukan kepada cinta yang sesungguhnya. Kita mencintai sensasi yang menantang adrenalin berpacu. Ini sering menjadi penyebab hati yang mendua.
Ada juga yang berasalan bahwa orang ketiga ini lebih sempurna untuk kita dibandingkan pasangan kita. “Kenapa kita tidak boleh memilih yang lebih baik?” Untuk alasan ini, saya mengutip bebas sebuah percakapan dalam adegan film jomblo. Kalau memang kita memilih yang lebih baik, maka yang lebih baik dari yang kita miliki akan selalu muncul. Apakah memang kita harus selalu meninggalkan yang lama untuk yang lebih baik? Yang ada tinggal komitmen bahwa kita menjatuhkan pilihan kepada seseorang dan menetapkan hati kita untuk setia kepadanya meskipun banyak yang lebih baik dari dia. Lagi-lagi, kesetiaan adalah masalah janji hati.
Ada saatnya hubungan yang kamu miliki dengan sang kekasih hati memasuki tahap kebosanan. Proses ‘ketemuan’ atau ‘jalan bareng’ tidak lebih dari sebuah kewajiban atau pekerjaan rutin. Waktu berdandan untuk ‘jalan keluar’ tidak lagi selama ketika baru bertemu dia dulu. Tidak ada lagi rasa cemas akan pakaian yang kurang ‘hip’ ketika diajak jalan untuk ketemuan dengan teman-teman si dia. Kamu tidak lagi mengharapkan ketemu dengan dia seperti kamu dulu mengharapkannya. Kata-kata mesra pun mulai jarang diucapkan. Ini bisa jadi adalah tanda-tanda kebosanan.
rasa nya koq gw ‘kena’ sama tulisan ini..
) duhhh.. always get remind from you..
thanks bro..
By: Dee on May 16, 2009
at 4:47 pm
kena ma tulisan? apa karena gambar cewenya mirip kamu dari belakang??… he he he!
By: greensand on May 17, 2009
at 2:27 pm
waduh…..terasa dikutukma ni tulisan “mendua beararti menyakiti diri sendiri” uh…..dalem,,,,,padahal baru kena nich…..mo dilanjutin g yach,,,,,,maju terus pantang mundur.,,,,,,,,
By: shita on May 27, 2009
at 9:16 pm
hm…….ternyata q jg terjangkit virus yg namanya mendua saat ni, brti q menyakiti diri sendiri z… waduhhhhh gawat…..q baru sadar dech, q g kan banting stir klo gitu, tetep ambil jalan yg dah dari awal q yakini, thak’s bangetz yach….tulsian ni buat q jd igat kmbali komitmen yg dah q buat!!!!! ^_^
By: aza on October 22, 2009
at 9:30 am