Posted by: greensand | March 4, 2008

Muhasabbah… dari seorang AEM

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira diatas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet. Baju merahnya yg Kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang Es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram Ikatan sabuk celana ayahnya.

Yani dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan & kemudian duduk Di atas seonggok nisan “Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1915:20- 01-1965″

“Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo’a untuk nenekmu” Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yg mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya.

Ia mendengarkan ayahnya berdo’a untuk Neneknya…

“Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah.”

Ayahnya mengangguk sembari tersenyum, sembari memandang pusara Ibu-nya.

“Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya Yah…” Kata Yani berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung.

“Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 42 tahun … “

Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana . Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut “Muhammad Zaini: 19-02-1882 : 30-01-1910″

“Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun yang lalu ya Yah”, jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk.

Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya. “Memangnya kenapa ndhuk ?” kata sang ayah menatap teduh mata anaknya. “Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa dineraka” kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. “Iya kan yah?”

Ayahnya tersenyum, “Lalu?”

“Iya .. Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun
dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang dikubur …. Ya nggak yah?” mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada Ayahnya pendapatnya.

Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas

….. “Iya nak, kamu pintar,” kata ayahnya pendek.

Pulang dari pemakaman, ayah Yani tampak gelisah Di atas sajadahnya,
memikirkan apa yang dikatakan anaknya… 42 tahun hingga sekarang… kalau kiamat datang 100 tahun lagi…142 tahun disiksa .. atau bahagia dikubur

…. Lalu Ia menunduk … Meneteskan air mata…

Kalau Ia meninggal .. Lalu banyak dosanya …lalu kiamat masih 1000 tahun
lagi berarti Ia akan disiksa 1000 tahun?

Innalillaahi WA inna ilaihi rooji’un …. Air matanya semakin banyak menetes, sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan, kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur. Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi? Tahankah? padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin ia sudah tak tahan?

Ya Allah… Ia semakin menunduk, tangannya terangkat, keatas bahunya naik turun tak teratur…. air matanya semakin membanjiri jenggotnya.

Allahumma as aluka khusnul khootimah.. berulang Kali di bacanya DOA itu
hingga suaranya serak … Dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk
Yani.

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan Bambu. Di betulkannya
selimutnya. Yani terus tertidur…. tanpa tahu, betapa sang bapak sangat
berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan…

Dan apa yang akan datang di depannya…

“Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakkan dihatiku…”

Sebarkan ini ke saudara-saudara Kita, mudah-mudahan bermanfaat.. .

* “Sebarkanlah walau hanya 1 ayat”

Biarkan Tuhan Mengemudikan Hidup

Kita tidak pernah mempertanyakan ke mana supir bus kota yang kita
tumpangi akan membawa bus-nya. Tetapi kita sering mempertanyakan Tuhan,ke mana Dia akan membawa hidup kita

“Seorang ayah mengajak puterinya, Asa 6 tahun, mengendarai mobil
menujuke sebuah museum. Sudah lama Asa menginginkannya. Si Ayah
kebetulan hari itu mengambil cuti dan sengaja mengantar anaknya ke
tempat yang sudah lama diimpikan Asa itu tanpa didampingi Bunda.
Di perjalanan, tak hentinya Asa bertanya kepada si Ayah :
“Ayah tahu tempatnya?”, tanya Asa yang duduk di samping kemudi Ayah.
“Tahu, jangan kuatir …”, jawab Ayah sembari tersenyum.
“Emang Ayah tahu jalan-jalannya?”
“Tahu, jangan kuatir …”
“Benar, tidak kesasar Ayah?”
“Benar, jangan kuatir …”, jawab Ayah tetap dengan sabar.
“Nanti kalau Asa haus, bagaimana?”
“Tenang, nanti Ayah beli air mineral …”
“Terus kalau lapar?”
“Tenang, Ayah ajak mampir Asa ke restoran …”
“Emang ayah tahu tempat restorannya?”
“Tahu, sayang .”Emang ayah bawa cukup uang?”
“Cukup, sayang …””Kalau Asa pengin ke kamar kecil?”
“Ayah antar sampai depan pintu toilet wanita …”
“Emang di musium ada toiletnya?”
“Ada, jangan kuatir …””Ayah bawa tissue juga?”
“Bawa, jangan kuatir …”, kata ayah sembari membelokkan mobilnya masuk
jalan tikus, karena macet.
“Kok Ayah belok ke jalan jelek dan sempit begini?”
“Ayah cari jalan yang lebih cepat supaya Asa bisa menikmati museum lebih
lama nanti . “

Tidak berapa lama, Asa kemudian tidak bertanya-tanya lagi. Giliran sang
Ayah yang bingung, “Kenapa Asa diam, sayang?”
“Ya, Asa percaya Ayah deh! Ayah pastitahu, akan antar dan bantu Asa
nanti!”

Kita ini seperti Asa si anak kecil ini. Kita bertanya banyak hal
mengenai apa yang kita hadapi dan terjadi dalam hidup kita. Terlalu
banyak khawatir apa yang akan kita hadapi.Padahal sesungguhnya Tuhan
“sedang mengemudi” buat kita semua.

Kadang Ia membawa ke “gang sempit” yang barangkali tidak enak, tetapi
itu semua untuk menghindari “kemacetan” di jalan yang lain. Kadang Ia
memperlambat “kendaraan-Nya”, kadang mempercepat. Semuanya ada
maksudnya. Ada baiknya kalau kita menyerahkan hal-hal yang di luar
jangkauan kita kepada-Nya. Biarkan Dia berkarya atas hidup Anda, biarkan
Dia mengemudikan hidup Anda, sebaliknya fokuskan hidup Anda kepada
hal-hal yang Anda bisa kerjakan di depan mata, dengan berkat kemampuan yang Anda sudah miliki.


Responses

  1. pak, boleh tanya ta? nie pertanyaan sulit bgt………”mussabah” to apa pak????

  2. @irvan milanisti
    muhasabbah –> interopeksi diri, merenungkan suatu hal…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: