Posted by: greensand | August 24, 2008

MERDEKA

17 Agustus 1945, 63 tahun kejadian tersebut telah lewat bersama masa, namun syukurlah gema kemerdekaan sampe sekarang masih terasa.

Suatu hari di bulan agustus ini, aku membaca sebuah pendapat tentang pengertian menghargai kemerdekaan.

Mengapa kita harus menghormati Bendera Merah Putih? Kita manusia hendaknya tidak menjadikan sesuatu sebagai Tuhan. Kalo kita ingin memahami hakikatperjuangan para pejuang, tidak cukupkah dengan hanya menundukkan kepala sejenak dan berdo’a.

Aku nggak mau panjang lebar membahas pendapat tersebut di atas, karena itu adalah pendapat pribadi. Aku lebih tertarik dengan antusias warga negara kita yang menyambut hari kemerdekaan dengan semarak dan semangat tinggi.

Di sekitar lingkunganku, setiap RW, Kelurahan selalu ada momen kegiatan kerja bakti untuk sekedar membersihkan jalan, mengecat trotoar dan pos kamling, dilanjutkan dengan perlombaan, mulai lomba games, olah raga, seni. Dan akhirnya, momen2 akhir bulan agustus selalu semarak dengan bazaar, panggung hiburan yang diisi dengan pemberian hadiah lomba-lomba yang telah dilaksanakan, pentas musik mulai pop, sampai dangdut.

Dan aku yakin bahwa di semua tempat, di mana ada orang Indonesia, maka semua kegiatan itu pasti ada.(tau deh kalo ada yang nggak ada…)

Dan sebagian besar kegiatan seperti ini identik dengan masyarakat kelas menengah ke bawah, di mana pada saat itu semua masyarakat yang jarang merasakan hiburan dikarenakan keterbatasan dalam hidupnya benar – benar menikmati momen2 ini. Meski berdesak – desakan, meski harus jalan kaki dan berdiri pada saat acara berlangsung, meski panas terik, tetap semangat. Bahagia rasanya melihat hal seperti ini,…

Namun ketika kembali ke kantorku, yang notabene terletak di depan sebuah panti pijat… Ada perasaan prihatin, karena mereka, pekerja di panti pijat ini tidak bisa menikmati meriahnya kegiatan yang berlangsung kurang dari 2 Km dari tempat mereka bekerja. Dan kaget juga seragam mereka hari ini dominan Merah dan Putih, meski dalam model yang seksi… Lebih kaget lagi, kalo tahu bahwa ada mobil patroli yang ada tulisan POLSEK XXX juga parkir di sana. Mungkin lagi upacara ya di dalam…

AH… aku sendiri juga nggak ikut upacara, lomba, atau menonton konser dangdut! Aku di sini, menatap laptop, dan berpikir sampe kapan aku Merdeka dari belenggu yang kurasa saat ini. Aku belum merdeka, belum menjadi orang yang bebas, karena di sana masih banyak batasan. Batasan?? iyalah nggak punya duit kan salah satu batasan, secara ini tanggal tua gitu loh!

Kapankah aku Merdeka? … harapku aku segera merdeka, sehingga bisa berbuat untuk membantu “memerdekakan” mereka yang juga belum merdeka. Satu hal yang pasti, saat ini aku harus berjuang. Dengan semboyan ‘Merdeka atau Mati’ kuawali langkah perjuanganku hari ini… MERDEKA!!!


Categories

%d bloggers like this: