Posted by: greensand | May 14, 2009

Tunanetra yang Sukses Jadi Pengusaha

Aku hanya ingin mengajak, bekerjalah dengan PRIDE! Karena semua orang memiliki potensi di dalam dirinya, sehingga dengan berusaha, apapun kendalanya pasti kita akan bisa melewati.

Di artikel ini, menunjukkan orang yang memiliki kekurangan mampu berkarya sehingga dia memiliki PRIDE, kebanggaan, sedang di sini masih banyak orang yang kondisinya lebih sempurna, menanggalkan PRIDE’nya dengan alasan ketidakmampuan, berbekal sempritan menjaga setiap jengkal halaman ruko. (*TS lagi senewen ma tukang parkir liar, gak ngapa2in main sempritan ajah, minta gopek! Padahal TS cuman beli nasi goreng, nggak sampe 50 meter dari motor…)

[ Jawa Pos, Kamis, 14 Mei 2009 ]

Peni Susilowati, Tunanetra yang Sukses Jadi Pengusaha

Buta Total setelah Lahirkan Putri Bungsu

Kebutaan tidak membatasi langkah Peni Susilowati untuk terus berkarya. Divonis menderita glaukoma, dia langsung spontan mengubah jalan hidup. Cobaan terus datang, tapi dia berhasil melewati semuanya. Kini, di bawah label Shabrina, Peni menekuni bisnis busana muslim sampai ke negeri seberang.

SEKARING RATRI ADANINGGAR

Orang-orang dengan keterbatasan mental dan fisik kini punya kesempatan lebih besar untuk mengembangkan diri. Bahkan, tidak sedikit yang sukses menekuni bidang masing-masing. Salah seorangnya Peni Susilowati, penyandang tunanetra yang berhasil mengembangkan bisnis di bidang konveksi. Kebutaan hampir tidak pernah menghambat kiprah wanita 43 tahun itu untuk berkarya.

Berkat kegigihan dan ketekunan, dia berhasil mengembangkan bisnis busana muslim dengan label Shabrina. Merek itu tidak hanya menasional, tapi kini juga mulai diekspor ke beberapa negara muslim.

Bisnis Peni tersebut begitu lancar karena mempunyai spesifikasi yang jarang dimiliki produsen lain. Yaitu, dia mengembangkan busana muslim berbahan kaus. Menurut dia, bahan kaus sangat cocok dengan kondisi cuaca di Indonesia yang cenderung panas. Di samping itu, belum banyak yang memproduksi busana muslim berbahan kaus.

“Sebab, tidak mudah menjahit bahan yang satu itu. Harus telaten karena gampang melinting,” ujarnya ketika ditemui Selasa lalu (12/5) di kediamannya, kawasan Sidosermo PDK, Surabaya.

Peni tidak ingin model busana muslim produksinya biasa-biasa saja. Untuk itu, dia menyewa jasa perancang busana muslim ternama beserta tim kreatif untuk membuatkan model-model yang tidak biasa. “Awalnya, saya sendiri yang merancang. Tapi, semakin banyak pesanan, saya semakin kewalahan. Akhirnya, saya memilih menggunakan jasa perancang agar kualitasnya lebih bagus,” jelasnya.

Keputusan Peni tepat. Busana muslim berbahan kaus diminati banyak orang. Dalam seminggu, ibu tiga anak itu mampu memproduksi sekitar 3.000 busana muslim berbahan kaus. Produk tersebut lalu dia pasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga luar negeri, seperti Abu Dhabi, Brunei Darussalam, Qatar, dan Singapura.

Tidak puas dengan busana muslim dewasa, Peni menjajal pasar anak-anak dengan label Alisha. Apalagi, pasar anak-anak amat besar. Khusus busana anak-anak, Peni merancang sendiri. “Label Shabrina diambil dari nama putri bungsu saya, Amalia Shabrina. Alisha adalah gabungan nama tiga anak saya,” ujarnya.

Kesuksesan bisnis tersebut menggembirakan wanita kelahiran Jakarta, 4 November 1965 itu. Pasalnya, baru dua tahun Peni memulai usaha tersebut. Berbagai cobaan datang bertubi.

Kebutaan Peni bukan bawaan sejak lahir. Sebelum buta, dia adalah wanita yang aktif dan memiliki kehidupan normal. Lulus dari Fakultas Hukum Unair pada 1989, Peni bekerja di bidang perbankan dan properti. Dia juga pernah menjadi legal officer sebuah perusahaan swasta nasional.

Pada 1992 istri Chamim Rusdi itu mulai merasakan sakit pada kedua mata. Apalagi ketika matanya terkena lampu sorot mobil yang melintas di hadapannya. “Rasanya seperti tersayat,” kenangnya.

Ketika sakit pada mata itu kian parah, dia memeriksakan diri ke dokter. Tapi, hasilnya nihil. Hampir semua dokter yang didatangi mengatakan tidak ada masalah dengan matanya. “Kira-kira, saya sudah ke sepuluh dokter. Kebanyakan mengatakan mata saya kecapekan karena terlalu sering lihat komputer,” terang dia.

Tapi, Peni tetap memeriksakan diri. Akhirnya, seorang dokter menjatuhkan vonis yang mengubah perjalanan hidupnya. Dia divonis menderita glaukoma. Malangnya, glaukoma yang diderita Peni tergolong parah sehingga tidak bisa disembuhkan. Padahal, kala itu Peni tengah hamil anak pertama. Betapa kaget dan bingungnya Peni dan suami.

“Sudah dilaser dan diberi obat, tapi tidak bisa,” papar Peni. Menurut dokter, penglihatan Peni sedikit demi sedikit akan habis dan akhirnya buta total.

Kenyataan tersebut memberikan pukulan telak pada Peni. “Ya, bisa dibayangkan bagaimana rasanya menunggu hari kegelapan itu tiba. Apalagi, saya orang yang suka banget baca buku,” tutur dia.

Meski begitu, Peni tidak kehilangan akal. Dokter yang merawatnya juga terus menyuntikkan semangat hidup kepadanya.

Cobaan kembali datang. Ketika tiba saatnya melahirkan, dia memilih jalan normal. Padahal, penderita glaukoma tidak diperbolehkan melahirkan secara normal. “Dokter saya lupa memberi tahu,” ucapnya. Akibatnya, salah satu matanya (yang kiri) langsung buta.

Meski sedih, terguncang, dan ingin marah, Peni memilih menerima cobaan tersebut. Tanpa ragu, sesudah melahirkan putra pertamanya, Rizky Adhitya, dia memilih kembali bekerja hanya dengan mata kanan. Itu dilakoni selama lima tahun.

Peni lantas bekerja dan berlaku seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada matanya. “Saya nggak mau menyerah. Selama masih bisa melihat, saya akan terus bekerja. Saya orang yang tidak bisa diam,” tegasnya.

Karena perilaku Peni tidak berubah, rekan-rekan sekantornya tidak tahu tentang kebutaan mata kiri tersebut. Tapi, lama-kelamaan penglihatan mata kanan Peni juga memburuk. Rekan-rekannya mulai bertanya-tanya.

“Biasanya, saya jalan cepat. Tapi, sejak mata yang satu mulai kehilangan penglihatan, saya jadi jalan pelan-pelan. Banyak teman yang heran dengan perubahan tingkah laku saya itu,” tutur dia.

Lantaran kondisi tersebut makin parah, pada 1997 Peni memilih berhenti bekerja. Sampai saat itu, tidak ada rekannya yang tahu tentang penyakit Peni tersebut. “Penglihatan saya sudah parah, semakin menyempit. Ibarat melihat di lubang kunci,” jelas dia.

Tapi, setelah tak ngantor, Peni tidak ingin menganggur. Sebelum penglihatan itu menghilang, dia membuka usaha dekorasi interior kecil-kecilan di rumah. “Lumayan, ada beberapa klien yang memercayakan desain rumahnya pada saya. Pokoknya, saya harus sibuk, nggak bisa diam terus,” tambah dia.

Peni juga ingin bisa melihat Masjidilharam sebelum buta total. Untuk itu, dia mendaftar haji dan dipastikan berangkat pada April 1998. Tapi, kenyataan berkata lain. Karena kelelahan mengikuti latihan manasik haji, Peni pijat refleksi. Dari situlah dia mengetahui bahwa dirinya hamil 16 minggu. Begitu memeriksakan diri ke dokter, dia dijadwalkan melahirkan saat berangkat haji. “Saya langsung lemas. Tapi, mau gimana lagi, ya harus rela,” lanjutnya.

April 1998, Peni melahirkan putri bungsunya. Persis setelah melahirkan, penglihatannya benar-benar hilang. Dia buta total. “Saya shock berat, pengin nangis pada Allah. Karena itu, sehari sesudah melahirkan, saya langsung minta pulang walaupun dokter melarang,” jelasnya.

Sampai rumah, Peni menangis sejadi-jadinya. Tiba-tiba, dia sadar bahwa putrinya masih ditinggal di rumah sakit. Seketika itu juga Peni kembali ke rumah sakit. Di sana dia mengetahui bahwa putrinya kritis karena lahir prematur. “Saya tambah shock. Apalagi, dokter bilang bahwa anak saya baru bisa normal tiga bulan lagi,” tegasnya.

Menyaksikan putrinya kritis, Peni tersadar. “Kok bisa-bisanya saya mikirin diri sendiri gara-gara buta sampai lupa anak sendiri. Saya seolah disadarkan tentang tugas saya sebagai seorang ibu meski menjadi tunanetra,” ungkapnya.

Berbekal kesadaran itu, Peni kembali bangkit. Tidak betah menganggur, enam bulan setelah melahirkan dia langsung memilih belajar membaca huruf braille. Ketika merasa mahir, Peni membuka praktik guru privat bagi para tunanetra. Selain itu, dia kuliah lagi untuk mengambil akta empat. Dia pernah mengajar di salah satu sekolah luar biasa.

Sesudah mengajar, dia menekuni bisnis katering khusus makan siang di sebuah sekolah selama setahun. Pada 2002 dia bisa berangkat ke tanah suci bersama suami.

Peni menyatakan bahwa usaha busana muslimnya berdiri secara tidak sengaja. Pada 2007 sang adik yang memiliki bisnis garmen khusus baju-baju promosi kewalahan melayani pesanan. “Akhirnya, saya ikut bantu,” ucap dia.

Dari situ, Peni mulai tertarik membuat usaha sendiri. Jika sebelumnya hanya mengerjakan pesanan sang adik, sekarang dia mencari order sendiri. Usaha kerasnya membuahkan hasil. Bahkan, Peni sendiri yang merancang baju-baju muslim itu. Caranya, dia memanggil pembuat pola. Dia lantas tinggal menginstruksikan busana yang ingin dibuat itu. Agar tidak membuang banyak kain, si pembuat pola mewujudkannya dalam ukuran anak-anak. “Kalau ada yang kurang, ya diperbaiki, sampai akhirnya saya setuju untuk diproduksi,” jelasnya.

Hasil rancangan Peni yang tidak terpakai akhirnya digunakan oleh putrinya ketika ada acara di sekolah. Ternyata, buasana itu menarik perhatian teman-temannya. Akhirnya, pesanan baju busana muslim mulai mengalir.

Bahkan, Peni kemudian kewalahan. Dia lalu menambah pegawai. Bukan hanya itu, dia juga membentuk tim kreatif yang diawasi langsung oleh seorang perancang busana muslim ternama, Alphiana Chandrajani. Kini Peni punya 60 karyawan. Bisnisnya pun terus berkembang.

“Itu berkat keyakinan saya pada Allah yang tidak pernah putus. Keluarga besar dan teman-teman juga tidak pernah berhenti mendukung saya,” ujarnya sambil tersenyum. (*/ari)



Responses

  1. Bu, saya mau tanya alamat jelasnya dimana dan nomor telepon yang bisa dihubungi…makasih

  2. Ibu Peni saya sangat tersentuh dengan jalan hidup ibu,saya mempunyai kakak yang terkena penyakit seperti ibu,saya takut dia kehilangan harapan,boleh tolong kontak saya di alamat email saya ini bu?…saya ingin berbincang dengan ibu,untuk kakak saya terima kasih…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: